Archive | February 2012

Mutiara

Senyum manis masih terus mengembang dari bibirnya. Tangannya yang lentik dengan lincah memainkan sebuah piano kecil kesayangannya. Pancaran wajahnya seakan menunjukan bahwa ia bukanlah seorang yang mengidap penyakit kronis. Mutiara, perempuan yang sudah menjadi pacarku sejak dua tahun yang lalu itu divonis menderita AIDS beberapa bulan yang lalu.

“Besok kita ke dokter lagi yah,” ucapku menyela keasyikannya bermain piano.

Mutiara menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, biar kamu cepat sembuh,” tambahku.

Ia menghentikan gerakan jarinya, “Ketika seseorang sakit maka ia memiliki dua pilihan, sembuh atau mati, tapi penyakitku tidak memiliki pilihan yang pertama”

Aku menghela nafas, mencoba untuk menyusun kata yang tepat, “tapi mut..”

“Tapi apa? Mengobatiku berarti mengulur-ulur waktu kematianku, itu sama saja dengan mempermainkan takdir tuhan,” balasnya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin tetap bersamamu, aku hanya ingin selalu disampingmu selama aku bisa, seandainya nyawaku bisa kujual, maka aku akan menjualnya agar aku tetap bisa bersamamu,” ucapku.

Mutiara memelukku. Air matanya terasa panas menetes ke bahuku. Ini adalah pelukan terhangat yang pernah kurasakan.

“Terimakasih sayang, kumohon jika nanti sudah tiba waktuku, maka aku ingin melewatinya di pangkuanmu,” ucapnya dengan terisak.

Aku mengangguk. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukannya, lalu ia menuju ke arah dapur, kemudian ia kembali dengan dua gelas coklat panas.

Sambil tersenyum ia menyerahkan segelas coklat panas kehadapanku, “ayo kita minum dulu”

Kami lalu meminumnya. Ia lalu merebahkan badannya dipangkuanku ketika gelas yang ia minum sudah hampir habis. Sambil bersandar di sofa, aku pun mulai memejamkan mataku yang sudah mulai mengantuk.

Dua jam berlalu, dengan berat aku membuka mataku. Kulihat Mutiara masih tertidur dengan lelap dipangkuanku.

“Bangun sayang, udah sore,” kataku sambil mengelus rambutnya.

Ia tetap tertidur. Tidak, ia tidak seperti orang yang sedang tidur. Tangannya sangat dingin, tidak ada detak nadi dipergelangan tangannya. Mataku langsung tertuju pada gelas coklat yang ia minum. Aku meraihnya, dan langsung mencium baunya.

Bau bawang putih, arsenik1.

Seketika tubuhku lunglai tak berdaya. Aku tak kuasa untuk mebendung air mataku. Dengan erat kupeluk tubuh kekasihku yang sudah tidak bernyawa itu.

“Kenapa kau lakukan ini sayang? Bukankah kau menyuruhku untuk tidak mempermainkan takdir tuhan?”

Aku membuka tas ranselku. Kukeluarkan sebuah gaun pengantin putih yang ingin kuhadiahkan untuknya. Dua tahun yang lalu, tepat hari ini, kami memulai perjalanan cinta ini. Aku membelikan gaun ini sebagai hadiah hari jadi kami, selain itu aku juga berencana untuk menikahinya sebelum ia pergi dari dunia ini. Namun kenyataan harus berkata berkata lain.

Aku memakaikan gaun itu ditubuhnya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Badanku gemetar, dengan lunglai aku lalu mencium keningnya.

“Selamat tinggal sayang, sampai jumpa di surga nanti”

____________

1Arsenik adalah sejenis zat kimia yang memliki kandungan racun yang kuat dan memiliki bau yang khas seperti bawang putih.

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Goodbye Days

Advertisements

?

Aku masih duduk termenung di depan kampusku sambil memandangi orang-orang yang terus berlalu lalang. Sudah hampir setengah jam aku duduk disini, menunggu sesorang yang sangat kucintai. Sesaat lamunanku membawa ingatanku ketika ia tersenyum kepadaku beberapa bulan yang lalu, dan mulai saat itulah aku mulai merasa jatuh cinta kepadanya.

Saat itu aku sama sekali tidak tahu siapa namanya, yang aku tahu hanyalah dia masih satu fakultas denganku. Aku pun masih ingat betapa gembiranya aku ketika ia menerimaku sebagai temannya di facebook, walaupun saat itu kita tidak saling mengenal di dunia nyata.

Sejenak aku melirik ke arah jam tanganku, sudah lima menit berlalu. Aku kembali teringat saat aku dengan susah payah merangkai kata-kata untuk berbicara dengannya, walaupun akhirnya sebatang coklat dapat mencairkan semuanya. Ya, sebatang coklat langka yang sangat ia inginkan sejak lama, coklat yang sudah sangat jarang sekali ditemukan.

Ulang tahunnya pun tak luput dari perhatianku. Masih teringat jelas dibenakku ketika aku dengan susah payah mengumpulkan berbagai hadiah untuknya, dan mungkin itulah hadiah ulang tahun paling rumit yang pernah kubuat. Aku sangat senang ketika aku memberikan kado itu, walaupun terlambat beberapa hari dari hari ulang tahunnya.

Semenjak saat itu, segala sesuatu berjalan dengan begitu mudah. Aku semakin dekat dengannya, walaupun aku sadar bahwa takkan pernah mampu untuk mendapatkan hatinya, dan ia pun takkan pernah mencintaiku mencintaiku.

“Hey, ngelamun aja, udah nungguin dari tadi ya?”

Suara perempuan itu membuyarkan lamunanku. Ternyata itu Anisa, orang yang sudah kutunggu semenjak tadi.

“Ngga kok, aku juga baru nyampe. Nih kasetnya, makasih yaa,” jawabku sambil menyerahkan 3 buah kaset DVD yang kupinjam darinya.

“Oke deh, Hmm.. aku langsung pergi yah, ada janji soalnya sama temen aku,” ucapnya sambil memasukan kaset itu ke tasnya.

“O gitu, ya sudah deh,” jawabku sambil memperhatikan langkahnya menuju ke arah jalan raya.

Di ujung jalan aku melihat seorang lelaki yang sudah menunggunya di atas motor. Sejenak aku menghela nafas. Aku tahu itu adalah lelaki yang selama ini ia sukai. Aku tersenyum, aku tidak marah, aku pun tidak cemburu, karena mungkin inilah yang terbaik untuknya. Asalkan bisa melihat ia tersenyum pun aku sudah merasa sangat bahagia, karena aku tak pernah mau melihatnya menangis jika ia bersamaku.

Terkadang cinta memang tidak sebanding lurus dengan kenyataan. Tapi biarkanlah aku mencintaimu. Aku tak butuh balasan apapun darimu, karena bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan mencitaimu sudah merupakan kebahagiaan untukku. Terimakasih untuk semua waktu yang telah kau luangkan untukku, mungkin itu adalah saat-saat terindah dalam hidupku.

My love song never ends  
I’ve already met you
It will never end

LOVE & TRUTH..

_________________________

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Love & Truth

Kutipan lirik lagu diatas diambil dari lagu YUI – Love n Truth

Gadis Yang Dirantai

Demi siapa aku hidup?
Untuk apa aku hidup?

Kata-kata itu terus terngiang di pikiranku sepanjang malam ini. Aku, Najma, 13 tahun, seorang yatim piatu yang hidup di negeri yang penuh dengan peperangan. Malam ini aku terus berjalan melewati jalanan Gaza yang sepi sambil memandangi langit yang dipenuhi oleh taburan bintang. Aku terus berjalan ke arah utara agar tetap bisa memandang gugusan bintang Andromeda1, gugusan bintang yang paling aku sukai.

Sewaktu kecil ibuku sering mengenalkan kepadaku berbagai macam gugusan bintang yang ada di langit malam. Tapi aku paling suka pada rasi bintang berbentuk huruf A, ibuku bilang itu namanya Andromeda, gugusan bintang itu hanya terlihat di langit utara setiap musim gugur.

Dinginnya angin malam benar-benar menusuk kulitku. Sejenak, aku mengencangkan syal hijau yang terikat di leherku. Syal ini adalah satu-satunya peninggalan ayahku. Dia sering memakai syal ini ketika pergi berperang melawan tentara Israel. Namun ditangan para tentara itu pulalah ayahku meninggal, begitu pula dengan ibu dan adikku, mereka menjadi korban roket yang membombardir perkampunganku.

Semenjak kematian orang tuaku, aku selalu hidup dalam ketakutan. Suara senapan dan ledakan bom hampir selalu kudengar sepanjang hari. Aku hanya bisa berdiam di tempat persembunyian bersama anak-anak yang lain, karena orang-orang dewasa melarangku untuk pergi. Setiap hari kami terus dihantui terror, tangisan, serta kematian.

Aku terus bertanya pada diriku sendiri untuk apa aku hidup. Setiap hari aku selalu merasa terpenjara, apakah aku dilahirkan untuk ini? Bukankah manusia dilahirkan untuk bebas? Aku ingin sekali merasakan kebebasan seperti anak-anak yang lain. Namun apa daya, aku terus hidup dalam kurungan, dirantai oleh ketakutan dan kesedihan.

Malam ini aku kabur dari camp persembunyian. Aku tahu sangat berbaaya bagi seorang anak kecil sepertiku untuk keluar di malam hari. Tapi aku tak perduli, aku hanya ingin merasakan kebebasan. Dan yang paling penting aku ingin melihat kelipan gugusan bintang Andromeda di langit sana.

Malam semakin larut, aku terus berjalan menyusuri jalan dipinggir kota ini. Tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan disini. Aku tak hentinya memandangi langit, sambil sesekali berlari-lari kecil sambil melompat-lompat untuk mengusir hawa dingin yang menyelimutiku. Seperti ada sebuah beban yang lepas, aku merasa sangat bahagia malam ini.

Apakah bintang-bintang itu akan kembali lagi besok? Ah, entahlah, aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan aku pun tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diriku besok. Tapi aku tak perduli, sekarang aku hanya ingin menikmati malam ini bersama kilauan cahaya bintang. Aku bahagia sekarang.

It’s happy line…

*****

Dorr..!!

Sebuah peluru tepat menembus dada seorang gadis kecil. Ia langsung tumbang, bajunya memerah berlumuran darah.

“Kenapa kau tembak anak kecil itu?” bisik seseorang berbaju tentara kepada temannya.

“Dia memakai syal Hamas, mungkin dia seorang mata-mata” jawab temannya.

“Tapi dia kan anak perempuan?” Tanyanya lagi setengah membentak.

“Sama saja, suatu saat dia juga akan melawan kita, dan mungkin akan membunuh kita. Bukankah lebih mudah membunuh anak singa daripada membunuh induknya, benar kan?” jawabnya lagi.

Dijalan itu, seorang anak perempuan terkulai tak bernyawa. Namun ia tampak tersenyum, wajahnya memandang kelangit utara Gaza, ke arah gugusan bintang yang bersinar paling terang malam itu, gugusan Andromeda, gadis yang dirantai.

________________

1Andromeda adalah suatu rasi bintang yang melambangkan putri Andromeda, seorang figur wanita dalam mitologi Yunani yang dirantai pada sebuah batu untuk diumpankan pada seekor monster laut.

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – It’s Happy Line

Aku, Hikari, dan Layangan

Aku berlari-lari mengelilingi padang rumput sambil terus mengulur layanganku. Jauh di ujung sana kulihat Hikari juga sedang mengulur layangannya. Di padang rumput ini, aku sangat suka sekali bermain layangan bersama Hikari, seorang anak perempuan cantik yang tinggal tidak jauh dari rumahku.

Walaupun seorang perempuan, tapi Hikari sangatlah ahli dalam bermain layangan. Ia bahkan sangat suka menjatuhkan layangan-layangan yang diterbangkan oleh anak-anak lelaki di atas bukit. Karena itu aku terkadang hanya diam terpaku menyaksikan atraksi layangan yang dilakukannya.

Entah sejak kapan aku mulai suka bermain layangan bersama Hikari. Hampir setiap ada angin besar kami selalu pergi ke tempat ini, seakan-akan anginlah yang menuntun kami untuk bertemu di padang rumput ini. Kami selalu bermain sepanjang hari, seakan tiada satupun yang bisa memisahkan kami, kecuali hujan. Hanya hujanlah yang bisa memisahkan aku dan Hikari, juga memisahkanku dari permainan layangan kesukaanku ini.

Pada suatu sore di musim panas, angin berhembus dengan sangat kencang. Aku langsung berlari ke padang rumput sambil membawa layangan warna merah kesukaanku. Seperti dugaanku, Hikari sudah berada disana. Tapi ia tidak mengulur layangannya, ia hanya duduk terdiam di samping layangan berwarna biru kesukaannya.

“Hikari, ayo kita bermain layangan lagi,” ucapku padanya.

“Kamu main duluan aja deh,” jawabnya.

Aku langsung mengulur layanganku. Sesekali aku melirik ke arah Hikari, namun ia masih tetap terpaku di tempatnya. Tiba-tiba aku teringat pembicaraan orang tuaku tentang seorang tetangga di komplek ini yang akan pindah rumah. Mungkinkan itu Hikari? Batinku. Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu, aku yakin Hikari akan tetap tinggal disini bersamaku.

“Kamu kenapa diam saja, Hikari?” tanyaku.

Hikari hanya diam seribu bahasa.

“Apa benar keluargamu mau pindah dari kota ini?” tanyaku kembali.

Hikari tampak kaget, tapi ia masih tetap bergeming. Aku kembali melanjutkan permainan layanganku, walau awan hitam mulai tampak memenuhi langit sore itu. Aku tahu Hikari tidak suka berbohong, dan mungkin benar ia akan pergi, tapi aku tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa Hikari, tanpa canda tawanya ketika mengulur layangan di padang rumput ini.

Tiba-tiba sebuah layangan berwarna biru melayang disamping layanganku. Aku langsung menoleh ke belakang. Benar saja, Hikari sudah mengulur kembali layangannya. Aku tersenyum gembira. Kulihat layangan Hikari sudah mulai jauh meninggalkan layanganku. Aku tidak mau kalah, aku langsung mengulur layanganku lebih jauh lagi.

Layangan Hikari terbang semakin tinggi, jauh, dan semakin jauh. Dengan cepat akupun terus mengulur layanganku, terus, dan terus kuulur sampai benang layanganku hampir mencapai ujungnya. Layanganku sudah tidak bisa lagi mengejar layangan biru Hikari, hingga akhirnya aku sadar bahwa layangan biru itu sudah terlepas dari tangan pemiliknya. Hikari sudah menghilang dari tempatnya.

Badanku lunglai, aku langsung merebahkan diriku sambil menatap nanar pada langit yang mulai dihiasi oleh kilatan petir.

Hujan belum turun, tapi kenapa kamu meninggalkan aku?
Bukankah hanya hujan yang bisa memisahkan kita?

Mataku terus memandangi langit, memperhatikan layangan biru yang hampir hilang dari pandangan. Layangan itu terbang semakin tinggi, membawa pergi semua kenangan tentang Hikari, layangan, dan padang rumput ini.

 

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Swing of Lie

Mie Ayam Spesial

Sekarang hari sabtu, tapi karena sudah malam jadi disebutnya malam minggu. Seperti kebanyakan anak muda jaman sekarang, Didi mengajak pacarnya Mimi untuk apel. Karena Didi termasuk orang yang suka berhemat, maka ia memutuskan untuk melakukan ritual malam minggu itu dirumahnya.

Karena tahu Didi akan mengajaknya apel di rumah, maka Mimi memutuskan untuk membawa laptopnya. Mimi memang anak yang rajin, ia selalu membawa-bawa laptopnya kemanapun ia pergi. Bukan untuk mengerjakan tugas, tapi untuk bermain game Angry Birds kesukaannya.

Setelah hampir satu jam bercumbu rayu di ruang tamu, tiba-tiba Didi merasa lapar.

“Beb, kamu laper ga?” kata Didi.

“Iya nih laper, tumben kamu mau ngajak aku makan ke luar,” jawab Mimi dengan wajah yang berbinar-binar.

“Ih siapa juga yang mau ngajak kamu makan di luar, orang aku mau masak yeey,” cetus Didi.

Tanpa menunggu persetujuan dari Mimi, Didi langsung meluncur ke dapur. Karena Cuma bisa memasak mie rebus, akhirnya ia memutuskan untuk memasak mie rebus rasa ayam spesial yang baru ia beli tadi siang.

Didi kemudian mulai memasukan bahan-bahan yang akan ia masak bersama mie rebus. Setelah memasukan dua buah mie, ia kemudian membuka kulkas. Di kulkas Didi mengambil telur, lalu ia masukan. Ada sayur sawi, dimasukan. Ada wortel dan kol, ia masukan. Ada tomat, bawang bombay, dan jahe, ia masukan juga. Ada Oreo rasa jeruk, tidak dimasukkan, ia simpan buat Afika.

Setelah satu jam memasak akhirnya mie rebus itu matang juga, ia kemudian langsung membuat minuman buat Mimi.  Didi mengambil dus susu Milo dan toples gula dari lemari, lalu ia mencampurkan satu sendok Milo dengan dua sendok gula. Lumayan, jadi hemat susunya, cetusnya dalam hati. Setelah semua siap, ia lalu membawanya ke meja makan.

“Bebeeb, udah mateng nih,” teriak Didi.

“Iya bentar, tanggung nih satu level lagi,” balas Mimi.

Didi lalu menghampiri Mimi, “sudaah, makan dulu sana, ada mie ayam spesial tuh”

Karena dipaksa, Mimi akhirnya pergi ke meja makan. Didi mempersilahkan Mimi buat makan terlebih dahulu agar kalau seandainya mie rebusnya tidak enak, maka Didi tidak akan memakannya.

“Gimana beb, enak ga?” Sela Didi.

“Hmm.. enak lah, wong makanannya gratis, rasa soto koyanya kerasa banget,” jawab Mimi.

“Loh kok rasa soto koya sih, aku kan masak mie rasa ayam spesial?” ucap Didi kebingungan.

“Ooh gitu ya, ga tau nih ga jelas rasanya, tap enak kok,” balas Mimi sambil terus memakan mie rebus itu.

Dalam sekejap Mimi melahap mie rebus itu tanpa sisa.  Ia kemudian meminum susu Milo panas yang sudah disediakan oleh kekasihnya.

Tiba-tiba Mimi memuntahkan susu yang ia minum, “Hoeek, kok susunya asin sih?”

“Haah, yang bener?” jawab Didi seolah tidak percaya.

“Sumpah, cobain nih!” kata Mimi.

“Ngga mau ah”

Tanpa pikir panjang Didi langsung membuka lemari. Ia langsung kaget ketika ia melihat toples gula masih teronggok dengan manisnya di lemari itu. Berarti yang tadi gue ambil tuh toples garam dong? Batin Didi, lalu ia menengok ke arah Mimi.

“Itu susu Milonya rasa baru beb, Milo rasa ayam spesial,” ucapnya dengan senyum seperti alien.

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Cooking

Lautku

Aku termenung memandangi lautan, di atas hamparan pasir putih pantai yang sangat luas. Aku rindu pada teman-temanku. Kemarin, kita masih bersama-sama bermain disini, berlari-lari diatas pasir sambil sesekali berenang melawan arus ombak yang cukup besar.

“Ayo dong berenang, dasar lemah!”

Itulah kata-kata yang paling aku ingat dari mereka, karena aku satu-satunya yang tidak bisa berenang. Aku sedih, tadi pagi ketika aku bangun, mereka sudah pergi meninggalkanku, entah kemana.

Matahari mulai meninggi, seiring dengan hembusan angin yang semakin kencang. Irama deburan ombak perlahan-lahan menghapus kesedihanku. Aku mulai melupakan teman-temanku yang pergi tanpa mengajakku, mungkin mereka sudah tidak perduli padaku. Aku mulai berlari-lari mengelilingi pantai, melompat kesana kemari sambil bernyanyi dengan riang.

Setelah puas berlari mengelilingi pantai, aku mulai mencoba kembali belajar berenang. HAP! Aku melompat kedalam air, namun ombak membawaku kembali ke pinggir pantai. Kucoba kembali melompat ke dalam air, namun lagi-lagi besarnya ombak kembali membawaku ke daratan. Aku tidak menyerah, berbagai cara kulakukan agar aku bisa berenang ke tengah lautan, tapi hasilnya tetap sama.

Lelah sudah aku mencoba. Sejenak, aku mencoba mengistirahatkan tubuhku di atas pasir pantai yang basah karena ombak, sambil menikmati angin laut yang berhembus cukup kencang.

***

TAP!! Seorang anak lelaki mengambil seekor anak kura-kura yang sedang terdiam di bibir pantai. Ia sepertinya sudah mengamati kura-kura kecil itu sedari tadi. Kura-kura itu tampak meronta seakan ingin dilepaskan dari genggamannya.

“Kasihan anak kura-kura ini, kayaknya ga bisa berenang,” ucapnya sembari mengamati kura-kura kecil itu.

Anak lelaki itu kemudian melompat ke dalam air, berenang menuju ke tengah lautan. Ia kemudian melepaskan kura-kura kecil itu agar bisa pergi rumahnya, ke lautan yang sangat luas.

 

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Sea

Dimana Bunda?

Dimana bunda?
Aku ingin bertemu bunda

Aku berlari menghampiri kakakku. Dia adalah satu-satunya saudaraku dan satu-satunya orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku.

“Kakak, aku pengen ketemu bunda,” ucapku padanya.

Ia hanya tersenyum. Mungkin ia sudah bosan mendengar pertanyaanku ini, ia juga mengkin sudah bosan untuk memberikan jawaban yang sama. Berkali-kali kakakku itu hanya menjawab kalau bunda sedang pergi, sedang bekerja. Mulanya aku percaya, tapi entah kenapa hingga aku menginjak usia 18 tahun bunda belum pernah sekalipun pulang ke rumah. Sejak kecil aku hanya tinggal bersama nenek dan kakak perempuanku. Kata kakakku, ayahku sudah meninggal ketika aku masih dikandungan, dan ibuku pergi bekerja ketika usiaku baru satu bulan.

“Nanti juga bunda pulang de, nanti kalau kamu udah gede,” jawab kakakku.

Aku sama sekali tidak puas dengan jawabannya.  “Aku kan udah gede kak, emang bunda kerja dimana sih? Apa emang bunda udah ga sayang lagi sama aku, masa sih udah 18 tahun ga pernah pulang, ga pernah nanyain kabar anaknya? Mendingan aku ga punya bunda aja deh daripada kayak gini mah”

Mata kakakku berkaca-kaca. Tanpa sepatah katapun ia langsung berlari ke kamarnya, dan membanting pintu dengan kerasnya. Aku tercengang. Baru kali ini aku melihat ia sangat marah padaku. Aku kembali mengingat-ingat apa yang baru saja ku katakan. Apakah itu sangat menyakitinya? Batinku. Nenekku yang sedari tadi sedang sibuk memasak langsung menghampiriku.

“Kakakmu kenapa nak?” Tanya nenekku.

Aku menceritakan padanya apa yang sudah kukatakan pada kakakku. Seketika nenekku langsung memelukku. Air mata langsung membasahi pipinya.

“Mungkin sudah saatnya nenek memberitahu siapa ibumu nak,” ucap nenekku, “Kakakmu adalah ibumu.”

Aku tertegun. Aku tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh nenekku.

“Ya, dialah ibumu. Dialah yang melahirkanmu. Dulu dia melahirkanmu ketika usianya baru 15 tahun. Jadi dia merasa lebih pantas menjadi kakakmu daripada menjadi ibumu,” tambahnya dengan suara terisak.

Dalam kebimbangan aku langsung berlari menuju kamar kakakku. Sekarang aku baru menyadari kenapa ia marah padaku. Perlahan kubuka pintu kamarnya, kulihat ia sedang duduk dan menangis diatas kasurnya. Dadaku terasa sangat sesak, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan kata itu, kata yang baru pertama kali aku ucapkan seumur hidupku.

“Bunda…”

Kesedihan itu terasa hangat
Jika kita bergandengan
Kelembutan itu jika aku berada di sampingmu
Aku bisa bermanja

Hey, mungkin aku bahagia
Karena aku memilikimu..

Maafkan aku kakak, maafkan aku bunda…

_____________________

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – to Mother

Kutipan lirik lagu diatas diambil dari lagu YUI – to Mother