Menunggu Hujan

Aku masih tetap terpaku memperhatikannya yang sedari tadi tampak sibuk dengan buku tebal itu. Sesekali ia tersenyum kepadaku, sambil menawarkan beberapa buku yang ia bawa agar aku tidak hanya termangu memperhatikannya. Entah untuk keberapa kalinya aku memenami gadis itu disini, di perpustakaan kampusku yang selalu sepi. Entah untuk keberapa kalinya juga hujan selalu mengguyur setiap kami berada disini.

Hampir dua jam berlalu, namun gadis itu masih tetap tenggelam dalam buku yang dibacanya. Akupun begitu, aku tetap memandangi wajahnya yang tampak kontras dengan siluet kaca jendela yang berembun karena derasnya hujan. Kerudung biru yang selalu ia pakai seakan melengkapi keceriaan yang selalu terpancar dari wajahnya. Selalu menentramkan hati, sebiru lautan, secerah langit di pagi hari.

“Kamu ga bosen apa bengong terus?” Suaranya tiba-tiba memecah lamunanku.

“Ngga, aku lagi males ngapa-ngapain, pengen ngeliatin hujan aja,” jawabku sambil tersenyum kepadanya.

“Ya sudah kalau begitu, nungguin hujan reda aja ya baru kita pulang”

Aku mengangguk. Dengan cepat ia kembali terhanyut dalam buku tebal itu. Sampai seribu tahun pun aku tidak akan pernah bosan menunggumu disini, batinku.

Aku menarik tas yang kusimpan dibawah meja. Tanganku mencoba mengambil sesuatu dari dalam tas itu. Sebuah kado. Sebenarnya hari ulang tahunnya sudah lewat beberapa hari yang lalu. Namun aku belum sempat memberikannya. Sekarang aku bukan hanya ingin memberinya kado, tapi aku juga ingin mengungkapkan sesuatu. Sesuatu yang selalu tertahan oleh derasnya hujan, dan tak pernah aku ungkapkan.

“Happy birthday, sorry ya telat ngasih kadonya,” ucapku sambil aku menyodorkan kado itu.

“Waah makasiih, tapi ulang tahunku kan udah lewat, berarti kamu harus bayar denda,” ia tertawa kecil sambil memperhatikan kado itu.

“Waduuh, dendanya apa nih?”

“Hmmm.. apa ya?” ia memiringkan kepalanya, seakan sedang memikirkan sesuatu. “O iya, kata orang kan sekarang hari valentine, berarti kamu harus ngasih aku coklat hahaha”

“Iya iya, ntar aku kasih kamu choki-choki” jawabku sambil tertawa.

“Huuuu, ga mau”

Sejenak ia melihat ke arah jendela, melihat tetesan hujan yang mulai mereda. Aku menarik nafas. Aku kehabisan kata-kata. Hal yang selalu terulang setiap kali awan hitam itu kehabisan tetes air untuk membasahi bumi. Aku kembali menarik nafas, mencoba menyembunyikan wajahku yang mulai tampak panik.

“Aku mah dari lahir juga ga pernah loh dapet coklat pas valentine,” Aku mencoba memulai topik pembicaraan baru untuk mencairkan suasana.

“Makanya kamu punya pacar doong,” ucapnya dengan nada bercanda.

“Ah kamu juga ga punya pacar tuh”

“Aku mah emang ga mau pacaran dulu”

“Emang kenapa?”

“Yaa ngga mau aja,” jawabnya dengan datar.

“Ya udah aku juga ga mau pacaran dulu”

“Diih ikut-ikutan aja, emangnya kenapa?”

“Ya soalnya cewek yang aku suka lagi ga mau pacaran dulu katanya”

Sesaat ia tertegun mendengar apa yang baru saja aku ucapkan. Senyum kecil mengembang dari bibirnya. “Cewek itu aku maksudnya?”

“Iih ge-er banget sih, emangnya cewek yang lagi ga mau pacaran kamu doang?”

“Oh gitu ya, kalau sekarang aku mau pacaran gimana?”

“Kalau kamu mau pacaraan, hmmm kamu mau ga kalau jadi pacar aku?”

Aku tersentak. Aku seakan tidak mempercayai apa yang telah aku katakana. Tanganku tiba-tiba bergetar.

“Hahaha aku bilang kan ‘kalau’, sebenarnya kan aku ga mau pacaran,” ia tertawa sangat puas.

Aku tertawa kecil. Ia tampak kembali sibuk membuka-buka buku yang dipegangnya, walaupun sebenarnya aku tahu itu hanya untuk menyembunyikan wajahnya yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

Hujan akhirnya reda. Kami memutuskan untuk pulang. Aku masih tidak percaya akan apa yang telah aku katakan. Berkali-kali aku mecoba meyakinkan diriku bahwa itu adalah hal yang biasa, aku sudah terbiasa ditolak, dan aku sudah yakin bahwa hal ini lah yang bakal terjadi.

Aku menyempatkan diri membeli coklat di minimarket. Entah kenapa coklat yang kubeli kali ini tidak ada rasanya, hambar. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa coklat ini memang rasanya benar-benar hambar, bukan hambar karena perasaanku saja. Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Ada SMS masuk dari dia, dengan cepat aku langsung membukanya.

Aku sekarang mau pacaran, berarti kamu mau kan jadi pacar aku?
nb: ga pake ‘kalau’ yaa 🙂

Hatiku bergetar. Aku kembali berjalan sambil memandang langit yang masih menyisakan awan hitam di ujungnya. Perlahan coklat yang aku makan mulai terasa manis, sangat manis. Semanis cinta yang baru bersemi, semanis tanggal empat belas di bulan Pebruari.

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Shake My Heart

Advertisements

About Vortex27

The special one wannabe..

Trackbacks / Pingbacks

  1. [Tema 2] Menunggu Hujan | #YUI17Melodies - February 15, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: