Dimana Bunda?

Dimana bunda?
Aku ingin bertemu bunda

Aku berlari menghampiri kakakku. Dia adalah satu-satunya saudaraku dan satu-satunya orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku.

“Kakak, aku pengen ketemu bunda,” ucapku padanya.

Ia hanya tersenyum. Mungkin ia sudah bosan mendengar pertanyaanku ini, ia juga mengkin sudah bosan untuk memberikan jawaban yang sama. Berkali-kali kakakku itu hanya menjawab kalau bunda sedang pergi, sedang bekerja. Mulanya aku percaya, tapi entah kenapa hingga aku menginjak usia 18 tahun bunda belum pernah sekalipun pulang ke rumah. Sejak kecil aku hanya tinggal bersama nenek dan kakak perempuanku. Kata kakakku, ayahku sudah meninggal ketika aku masih dikandungan, dan ibuku pergi bekerja ketika usiaku baru satu bulan.

“Nanti juga bunda pulang de, nanti kalau kamu udah gede,” jawab kakakku.

Aku sama sekali tidak puas dengan jawabannya.  “Aku kan udah gede kak, emang bunda kerja dimana sih? Apa emang bunda udah ga sayang lagi sama aku, masa sih udah 18 tahun ga pernah pulang, ga pernah nanyain kabar anaknya? Mendingan aku ga punya bunda aja deh daripada kayak gini mah”

Mata kakakku berkaca-kaca. Tanpa sepatah katapun ia langsung berlari ke kamarnya, dan membanting pintu dengan kerasnya. Aku tercengang. Baru kali ini aku melihat ia sangat marah padaku. Aku kembali mengingat-ingat apa yang baru saja ku katakan. Apakah itu sangat menyakitinya? Batinku. Nenekku yang sedari tadi sedang sibuk memasak langsung menghampiriku.

“Kakakmu kenapa nak?” Tanya nenekku.

Aku menceritakan padanya apa yang sudah kukatakan pada kakakku. Seketika nenekku langsung memelukku. Air mata langsung membasahi pipinya.

“Mungkin sudah saatnya nenek memberitahu siapa ibumu nak,” ucap nenekku, “Kakakmu adalah ibumu.”

Aku tertegun. Aku tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh nenekku.

“Ya, dialah ibumu. Dialah yang melahirkanmu. Dulu dia melahirkanmu ketika usianya baru 15 tahun. Jadi dia merasa lebih pantas menjadi kakakmu daripada menjadi ibumu,” tambahnya dengan suara terisak.

Dalam kebimbangan aku langsung berlari menuju kamar kakakku. Sekarang aku baru menyadari kenapa ia marah padaku. Perlahan kubuka pintu kamarnya, kulihat ia sedang duduk dan menangis diatas kasurnya. Dadaku terasa sangat sesak, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan kata itu, kata yang baru pertama kali aku ucapkan seumur hidupku.

“Bunda…”

Kesedihan itu terasa hangat
Jika kita bergandengan
Kelembutan itu jika aku berada di sampingmu
Aku bisa bermanja

Hey, mungkin aku bahagia
Karena aku memilikimu..

Maafkan aku kakak, maafkan aku bunda…

_____________________

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – to Mother

Kutipan lirik lagu diatas diambil dari lagu YUI – to Mother

Advertisements

About Vortex27

The special one wannabe..

8 responses to “Dimana Bunda?”

  1. myalizarin says :

    Bagus…

    *sampe speechless mau ngomong apa lagi*

  2. Vortex27 says :

    arigatoou.. 🙂

  3. vessa says :

    paling suka cerita yang ini 😀

Trackbacks / Pingbacks

  1. [Tema 6] Di mana Bunda? | #YUI17Melodies - February 19, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: