Mutiara

Senyum manis masih terus mengembang dari bibirnya. Tangannya yang lentik dengan lincah memainkan sebuah piano kecil kesayangannya. Pancaran wajahnya seakan menunjukan bahwa ia bukanlah seorang yang mengidap penyakit kronis. Mutiara, perempuan yang sudah menjadi pacarku sejak dua tahun yang lalu itu divonis menderita AIDS beberapa bulan yang lalu.

“Besok kita ke dokter lagi yah,” ucapku menyela keasyikannya bermain piano.

Mutiara menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, biar kamu cepat sembuh,” tambahku.

Ia menghentikan gerakan jarinya, “Ketika seseorang sakit maka ia memiliki dua pilihan, sembuh atau mati, tapi penyakitku tidak memiliki pilihan yang pertama”

Aku menghela nafas, mencoba untuk menyusun kata yang tepat, “tapi mut..”

“Tapi apa? Mengobatiku berarti mengulur-ulur waktu kematianku, itu sama saja dengan mempermainkan takdir tuhan,” balasnya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin tetap bersamamu, aku hanya ingin selalu disampingmu selama aku bisa, seandainya nyawaku bisa kujual, maka aku akan menjualnya agar aku tetap bisa bersamamu,” ucapku.

Mutiara memelukku. Air matanya terasa panas menetes ke bahuku. Ini adalah pelukan terhangat yang pernah kurasakan.

“Terimakasih sayang, kumohon jika nanti sudah tiba waktuku, maka aku ingin melewatinya di pangkuanmu,” ucapnya dengan terisak.

Aku mengangguk. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukannya, lalu ia menuju ke arah dapur, kemudian ia kembali dengan dua gelas coklat panas.

Sambil tersenyum ia menyerahkan segelas coklat panas kehadapanku, “ayo kita minum dulu”

Kami lalu meminumnya. Ia lalu merebahkan badannya dipangkuanku ketika gelas yang ia minum sudah hampir habis. Sambil bersandar di sofa, aku pun mulai memejamkan mataku yang sudah mulai mengantuk.

Dua jam berlalu, dengan berat aku membuka mataku. Kulihat Mutiara masih tertidur dengan lelap dipangkuanku.

“Bangun sayang, udah sore,” kataku sambil mengelus rambutnya.

Ia tetap tertidur. Tidak, ia tidak seperti orang yang sedang tidur. Tangannya sangat dingin, tidak ada detak nadi dipergelangan tangannya. Mataku langsung tertuju pada gelas coklat yang ia minum. Aku meraihnya, dan langsung mencium baunya.

Bau bawang putih, arsenik1.

Seketika tubuhku lunglai tak berdaya. Aku tak kuasa untuk mebendung air mataku. Dengan erat kupeluk tubuh kekasihku yang sudah tidak bernyawa itu.

“Kenapa kau lakukan ini sayang? Bukankah kau menyuruhku untuk tidak mempermainkan takdir tuhan?”

Aku membuka tas ranselku. Kukeluarkan sebuah gaun pengantin putih yang ingin kuhadiahkan untuknya. Dua tahun yang lalu, tepat hari ini, kami memulai perjalanan cinta ini. Aku membelikan gaun ini sebagai hadiah hari jadi kami, selain itu aku juga berencana untuk menikahinya sebelum ia pergi dari dunia ini. Namun kenyataan harus berkata berkata lain.

Aku memakaikan gaun itu ditubuhnya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Badanku gemetar, dengan lunglai aku lalu mencium keningnya.

“Selamat tinggal sayang, sampai jumpa di surga nanti”

____________

1Arsenik adalah sejenis zat kimia yang memliki kandungan racun yang kuat dan memiliki bau yang khas seperti bawang putih.

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Goodbye Days

Advertisements

About Vortex27

The special one wannabe..

Trackbacks / Pingbacks

  1. [Tema 17] Mutiara | #YUI17Melodies - March 1, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: