Archive | October 2012

Labu Merah

Mataku masih terpaku pada sekumpulan anak-anak yang memakai kostum hantu itu. Disini, di beranda rumah tuaku, aku hanya bisa terdiam memandangi keceriaan mereka. Terkadang beberapa orang dari mereka meghampiriku dengan gaya seolah-olah ingin menakutiku, untuk kemudian mereka kembali bermain setelah mendapat beberapa bungkus permen dariku. Aku tersenyum.

Tahun lalu, di tempat ini, kamu masih menemaniku membagikan permen-permen itu kepada mereka. Sesekali kamu pun mencoba menakut-nakuti mereka dengan boneka labu yang kamu buat sendiri. Tahun lalu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kamu selalu memintaku untuk membawakan sebuah labu merah, untuk kita hias dan kita bawa berkeliling desa dibawah taburan cahaya bintang.

“Kamu tahu? ketika malam halloween banyak hantu berwujud bola api menampakan wujudnya, makanya orang tua jaman dahulu membuat boneka labu agar anak-anak tidak bisa melihatnya karena warnanya sama dengan warna hantu bola api itu. Dan kurasa kamu tahu warna api hanya ada dua, jingga dan biru. Jingga untuk kejahatan dan biru untuk kebaikan. Tidak api yang berwarna merah.”

Begitulah aku selalu mencoba untuk menghibur kamu agar tidak meminta labu merah lagi walaupun sebenarnya aku tahu kamu sangat menginginkan labu warna merah itu, bukan warna jingga yang kamu benci.

“Kamu dimana? kenapa nggak kesini? bukankah tahun lalu kamu udah janji kita bakal kesini lagi malam ini?

Kegelapan semakin erat merangkul bumi. Satu persatu anak-anak itu mulai kembali ke rumahnya. Aku mengambil sebutir labu yang sedari tadi tergolek disampingku. Dengan sebuah pisau kecil, aku mulai mencoba untuk mengukir labu itu menjadi sebuah boneka halloween.

“Lumayan bagus,” batinku dalam hati setelah labu itu selesai kuukir.

Perlahan aku mulai menggores tanganku dengan pisau itu. Tetesan darah mulai keluar, membasahi boneka labu itu membentuk sebuah percikan merah yang indah. Semakin dalam aku menggores tanganku, semakin cepat pula labu itu berubah menjadi merah. Indah.

Aku menengadah ke langit, tampak kumpulan bintang Pleiades* mengelilingi bulan purnama malam ini, bulan purnama di malam halloween. Kumakan sebuah permen yang tidak sempat kuberikan kepada anak-anak itu, ini adalah permen yang sudah kulumuri racun, sama seperti yang kuberikan kepada mereka. Aku tertawa pelan.

Tak perlu lagi kamu bermimpi memeluk bulan, biar aku yang mengambilnya untukmu.
Tak perlu juga kamu menangis ketika langit tidak menampakkan bintangnya, biar aku yang pergi kelangit sana menjadi bintang, bersama anak-anak itu, untuk selalu menerangi malammu.

Ketika tetesan darah ini berakhir, kuharap kamu datang kesini untuk mengambil boneka labu merah yang selama ini kamu impikan. Bawalah dia berkeliling dibawah kilauan seribu bintang malam ini.

 

Ditulis untuk @YUI17Melodies dalam rangka #FFHalloween

———————————————————–

*Pleiades (the seven sisters) adalah kumpulan bintang di rasi taurus, yang dalam mitologi yunani merupakan 7 perempuan bersaudara yang melakukan bunuh diri agar abadi menjadi bintang di atas langit.