Live Your Life

“Gaya aja kaya preman, tapi diputusin cewe nangis”

“Enak aja, emangnya kamu tuh galau terus!”

Aku tersenyum ketika ingat percakapan semalam bersama kamu. Ya, bersama kamu yang sekarang sedang berlari-lari di lapangan basket dengan baju yang tampak agak kedodoran itu. Aku tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali menahan tawa ketika melihat kamu memegang bola basket itu. Kamu lebih mirip seperti sedang memeluk bola itu daripada memegangnya. Bahkan mungkin ukuran bola basket itu pun lebih besar dari kepalamu sendiri.

Badanmu yang kurang begitu tinggi juga tampak kontras sekali dibanding pemain-pemain yang lain. Aku bahkan terus menggelengkan kepala setiap melihat usahamu merebut bola dari musuhmu itu. Anehnya, kamu tidak pernah menyerah walaupun gagal mendapatkan bola itu. Kamu tetap berlari kesana kemari dengan penuh antusias.

Tiba-tiba aku kembali teringat saat kamu mendaftar ke tim basket di jurusanmu itu. “Kamu ngapain daftar ke tim basket, orang pendek ga bakal diterima,” cibirku waktu itu.

“Biarin, aku kan pengen tinggi. Daripada kamu tuh, cita-cita aja pengen jadi pemain bola, tapi bangun pagi aja susahnya minta ampun,” timpalnya.

“Nyantai aja sih, ntar juga bakal jadi pemain bola. tungguin aja!” aku mencoba untuk mengelak.

“Mau nyantai sampe kapan? udah dua kali tuh kamu ga lolos seleksi tim sepakbola kampus. Kalo tahun depan pas seleksi ketiga kamu ga lolos lagi gimana? mau ikut seleksi keempat pas kamu udah jadi alumni ntar?” Kamu tertawa dengan sangat puas.

“Yaa kalo ga lolos lagi ya udahlah sabar aja, yang lain mungkin lebih jago dari aku”

“Sabar apa? Sabar bukan diam, sabar bukan pasrah dan tak berbuat apa-apa, sabar bukan menyerah, tapi sabar adalah bersemangat dengan segala keterbatasan yang ada!”

Priiiiitt

Peluit tanda pertandingan berakhir menyadarkan lamunanku. Aku melihat kamu melompat-lompat kegirangan setelah berhasil menjuarai turnamen basket antar fakultas itu. Aku tersenyum sambil mengangkat jempolku ke arahmu. Kamu membalas acungan jempolku dengan mengepalkan tanganmu sambil melompat-lompat ke udara dengan penuh semangat. Semangat. Kata itulah yang selalu tampak di wajahmu, tak ada kata menyerah dan tak ada kata putus asa walaupun dengan berbagai kekurangan yang kamu miliki.

“Jadi orang itu harus selalu semangat, bersemangat untuk menghadapi kebaikan yang Tuhan berikan dengan cara apapun, dan bersemangat untuk tetap membantu orang lain untuk tetap bersemangat. Karena hanya itulah satu-satunya udara yang bisa memperpanjang hidup kita”.

Aku masih ingat kata-katamu itu, sebuah nasehat yang selalu menyuruhku untuk selalu bersemangat. Nasehat yang hanya tidak sekedar kata-kata karena kamu terus melakukan hal itu. Kulihat kamu mulai menghampiriku dengan senyum sumringah sambil memamerkan sebuah medali yang dikalungkan di lehermu.

“Cieee juara, boleh nih ntar malem traktir roti bakar,” ujarku.

“Yaa bolehlah mumpung aku lagi seneng, sekalian ngehibur kamu juga yang baru diputusin,” timpalmu sambil tertawa lepas.

Sesaat kemudian kamu kembali berkumpul bersama teman-temanmu di tengah lapangan basket. Aku terus memperhatikan gerak-gerikmu itu di tribun penonton yang mulai berangsur sepi.

***

Gerimis nampak mulai turun ketika kita sampai di tenda tempat penjual roti bakar ini. Walaupun tidak terlalu besar, namun roti bakar ini lebih nikmat dibandingkan roti bakar yang lainnya. Tanpa basa-basi aku langsung memesan roti coklat dengan teh hangat. Seperti biasanya, kamu pasti langsung memesan roti keju strawberry bersama dengan kopi susu.

Perbincangan mengenai pertandingan basket siang tadi mewarnai obrolan kita malam ini, hingga tiba-tiba kamu bertanya sesuatu, “jadi gimana cita-cita kamu buat jadi pemain bola? masih pengen atau pengen ganti ke cita-cita yang lain?”

Aku menghela nafas sejenak, “entahlah,  gimana ntar aja mau kayak gimana”

“Eeeh.. bukan gimana ntar, tapi ntar gimana. Kamu usaha dong, masa diem aja”

“Duuh aku juga bingung mau kayak gimana. Biarin Tuhan aja deh yang ngatur, lagian kan cuma Dia yang tahu masa depan kita bakal kayak gimana”, ujarku sambil tersenyum simpul.

Kamu tersenyum. “Yah, seperti kebanyakan orang bilang, masa depan itu emang misteri, tapi bukan berarti kita nyerah dan pasrah sama ketidaktahuan atau kegelapan masa depan. Ya… ya… ya… emang cuma Tuhan yang tau, tapi kita ada sekarang untuk menerka, untuk merencanakan, untuk menerawang, dan untuk berusaha tentunya. Itulah kenapa Tuhan ciptakan Masa Depan sebagai Misteri. Masa depan itu nggak lain dan nggak bukan adalah diri kita sendiri. Bentuk dari ‘bagaimana seharusnya kita’. Jadi tak usah bertanya esok kita akan jadi apa? Karena bisa jadi pertanyaan itu membuat esok tetap menjadi sebuah pertanyaan. Masa depan itu bukan misteri yang harus diungkapkan, tapi untuk dibuktikan keberadaannya.”

Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedari tadi berusaha untuk memotong roti. Aku mencoba memperhatikan lebih dalam perkataanmu.

“Satu hal yang harus kita tahu, kita kan hidup di dunia ini untuk memperjuangkan masa depan, jadi biarlah masalah mengganggu tapi nggak usah menghancurkan hidup kita. Kalau emang nggak kuat hidup, ya “SHINDE KUDASAI1“. Tapi kan ngga sesederhana itu, perjalanan masih panjang loh. Ke-PD-an amat kalo kita ngerasa pengen cepet-cepet mati. Emangnya kamu udah ngapain aja di dunia ini? Udah pernah ngerasain ngedaki gunung Jaya Wijaya belum? Udah pernah berenang di Samudra Pasifik? Udah keliling-kelilng Eropa belum? Udah nyicipin semua makanan di Indonesia belum? Udah pernah lihat sakura secara langsung belum? Masih banyak tau yg bisa dinikmati di dunia ini…”

Aku mengernyitkan dahi. Aku semakin terhanyut ke dalam perkataanmu, seperti ada hipnotis yang membuat mulutku kaku dan tak bisa memotong kata-kata itu.

“Belajar dari suasana dimana Tuhan memberikan rancangan hidup sedemikian rupa dan menyuruh kita menjalaninya dengan kemampuan yang terbaik meskipun dalam keadaan kita suka ataupun nggak, saat kita ngerasa senang ataupun kecewa, saat kita bahagia ataupun terluka. Belajar menerima apapun yang terjadi di sekitar kita, saat semuanya nggak sesuai sama apa yang kita inginkan, saat merasa dunia memusuhi kita, saat masalah datang silih berganti. Belajar mendirikan semangat saat diri sendiri mulai bosan dengan keadaan yang ada, saat orang-orang di sekitar kita memberikan respon negatif, saat diri sendiri merasa aman dalam keadaan yang memaksa kita untuk diam di tempat.”

Kamu berhenti, meraih gelas kopi dan langsung menyeruputnya. Entah kenapa kamu sangat menyukai minuman itu, minuman yang menurutku memiliki cita rasa yang aneh.

“Masih banyak cara-cara Tuhan memberikan kita pelajaran,” kamu mencoba melanjutkan perkataan sebelumnya. “Dan pada akhirnya mungkin hanya pembelajar sejatilah yang akan merasakan medali-medali emas asli dari Tuhan. Entah itu berupa kesuksesan, kebahagiaan, rasa bangga, ataupun reward terbaik bisa dikumpulkan di tempat orang-orang terbaik di akhirat kelak. Pembelajaran dari Tuhan itu terlalu LUAR BIASA. Kamu akan jadi juara dan akan jadi yang tersukses saat kamu merasa bahwa hidup itu terlalu luar biasa. Bahkan meskipun Tuhan tidak menjajikan Surga bagi orang-orang yang bersyukur, kamu tetap harus bersyukur atas WAKTU yang tuhan berikan untuk kita bisa mencicipi semuanya. Ya… WAKTU! Terlalu sempurna Tuhan Menciptakan WAKTU, tapi kita lebih sering menyia-nyiakannya.”

Giliranku yang meminum teh manis yang sudah mulai menjadi dingin. “Oke..oke.. mulai sekarang aku bakal nyoba buat berusaha lagi, tapiii..”

“Tapi apa?”

“Tapi aku suka males kalau ga ada yang nyemangatin, kamu tahu sendiri kan kalau aku tuh orangnya males banget. Apalagi sekarang nih aku baru diputusin, makin males aja deh ga ada penyemangat”, ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

“Sulit memang untuk move on, untuk sekedar gerak memindahkan tubuh ke tempat yang lebih baik. Tapi ya sekali lagi hanya diri sendirilah yang bisa dan sanggup melakukannya, ga ada esensinya kalo perubahan itu terjadi karena orang lain, karena orang lain itu juga punya dirinya sendiri untuk sekedar diurusin,” timpalmu sambil melahap potongan-potongan keju yang tertinggal di piring.

Aku tertegun mendengar ucapanmu. Aku memang terlalu banyak menyia-nyiakan waktu selama ini. Bahkan aku sudah tertinggal sangat jauh dari kamu dalam hal mengejar cita-cita. Kamu memang tidak pernah menyerah untuk mengejar cita-cita. Di dalam tubuh kecilmu terdapat pemikiran yang sangat luas dan bijaksana, bahkan aku yang umurnya lebih tua darimu juga tidak memiliki semua itu.

Malam mulai larut, namun gerimis masih setia menemani malam yang sunyi ini. Kita akhirnya memutuskan untuk berlari menerobos gerimis itu agar tidak terjebak terlalu lama di dinginnya udara malam ini.

***

Seminggu sudah kamu terbaring tak sadarkan diri di ruang berukuran 4×4 meter ini. Selang infus serta berbagai macam selang yang berukuran besar itu melingkari tubuhmu. Aku hanya bisa terpaku di samping tempat tidurmu sambil terus mencoba menahan air mata hingga membuat pipiku terasa panas. Aku benar-benar tidak sanggup melihat penderitaanmu ini.

Sesaat kulihat nafasmu terengah-engah. Aku yakin dengan sisa kekuatan yang kamu miliki, kamu masih berusaha untuk bisa kembali membuka matamu untuk melihat mentari esok pagi. Aku yakin selama tujuh hari ini kamu terus berjuang untuk mengalahkan penyakit itu, terus berjuang untuk bertahan hidup di dunia ini. Aku yakin kamu tidak akan pernah menyerah untuk dapat kembali meneruskan perjuangan untuk mencapai cita-citamu, perjuangan untuk membahagiakan kedua orang tuamu.

Seandainya aku boleh mengajukan satu permintaan saja, maka aku akan meminta untuk kembali melihatmu tersenyum, walau hanya sekali saja.

***

Ini soal kehilangan… Yang akan berarti jika kehilangan sesuatu yang berharga
Terlalu sakit pasti rasanya
Seperti anak kecil merindukan susu ibunya saat disapih
Rasanya nggak rela
Tapi kawan, lagi-lagi ini Kehidupan
Tuhan yang amat Mulia pemegang kendalinya

Ingatlah kawan Tuhan tak pernah mempermainkan makhluknya
Semuanya selalu indah jika kita mau menelaah dengan baik
Yah, saat hidup mulai terasa pahit maka sesungguhnya pahit itu bagian dari rasa
Sama dengan manis, asam, ataupun asin
Saat kita bisa merasakan semua rasa maka saat itulah kita tau bahwa lidah kita sempurna
Yah, saat kita bisa merasakan pahitnya kehidupanpun tentunya saat itulah hidup kita terasa sempurna
Jangan terlalu membebani rasa pahit, karena sesungguhnya nafas, berjalan, memandang, berbicara, bertemu, keluarga, hidup, semuanya terlalu manis…

Kembali tentang kehilangan
Ini soal ada dan tak ada kan?
Semuanya datang dan berlalu silih berganti
Ada yang hilang ada yang datang
Tenang saja sang hilang takkan benar-benar kehilangan
Masih ada yang tersisa…

Karena Kehilangan akan menyisakan Rindu

***

Jam dinding baru menunjukan pukul 6 pagi. Aku mengencangkan tali sepatuku dan mulai berlari menuju lapangan atletik di dekat komplek rumahku. Ini adalah hari kelima semenjak kamu meninggkalkan dunia yang fana ini. Ini juga hari kelima di mana aku berhasil bangun pagi untuk berolahraga dan berlatih sepak bola. Aku terus berlari sambil sesekali melihat ke arah langit biru yang tampak padu dengan warna jingga dari sinar mentari pagi.

Sejenak aku membuka ponselku dan melihat postingan terakhir yang ada di blogmu:

“Ketika hidup merupakan penantian, maka aku berharap untuk tidak menanti, membiarkan jalan terbentang luas, menghampiri apapun yang bisa kuhampiri, meraih apapun yang bisa kuraih. Dan yang seperti itulah aku seharusnya. Yah, kehidupan hanya sebatas itu, karena saat kita ‘menginginkan sesuatu’ saat itulah kita hidup. Saat itulah kita berjalan, saat itulah kita berfikir.”

Aku harus terus berusaha untuk menggapai masa depan. Tak ada lagi kata menyerah, tak ada lagi kata mengeluh. Tak akan ada lagi hari baik dan hari buruk karena semua hari adalah hari terbaik. Hari terbaik adalah hari di mana kita masih hidup di dunia ini, hari di mana kita bisa merasakan indahnya mentari, dan hari di mana segarnya udara pagi masih bisa kita hirup sesuka hati.

Mulai sekarang aku harus terus berusaha dalam segala hal, apapun rintangan yang akan terjadi aku tidak boleh kalah.. Never say die!

———————————————

1Shinde kudasai = Silahkan mati

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Never Say Die

NB:
Dialog karakter “kamu” dan puisi tentang kehilangan dikutip dari blog http://atashinoraifu.blogspot.com tanpa seijin pemiliknya 🙂
O iya, lagu ‘Never Say Die’ juga salah satu lagu favorit dari pemilik blog tersebut 🙂

Advertisements

About Vortex27

The special one wannabe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: