Archive | #20HariMenulisDuet RSS for this section

Arti Sebuah Kepercayaan

Aku menggigiti kuku jariku dengan cepat. Aku menantikan waktu dimana aku bisa keluar dari dunia peri untuk sejenak dan bermain-main di dunia manusia yang menarik. Tidak terlampau waktu yang telah kulewati berada di dunia ini. Kebosanan perlahan-lahan menjalar seperti sebuah akar pohon yang terus merambat seiring bertambahnya waktu. Waktu… mungkin aku bahkan sudah tidak pernah menghitungnya lagi.

“Evie, kamu diizinkan oleh tetua bermain ke dunia manusia. Tapi hanya setengah hari saja ya.” Nerf mengatakannya dengan nada datar.

Waktu setengah hari di dunia peri adalah waktu selama dua belas hari di dunia manusia. Bangsa kami tidak bisa seenaknya keluar dan masuk begitu saja. Perlu waktu dan izin dari para peri dewasa -yang kami sebut tetua- untuk itu.

“Terima kasih atas pemberitahuannya, Nerf.” Kataku dengan wajah terkembang oleh senyum.

Akhirnya kuberanikan diri untuk pergi ke dunia manusia, dunia yang sebenarnya belum pernah kusinggahi. Walaupun aku sering mendengarnya dari kakak-kakakku, namun aku tetap merasa takjub ketika melihat dunia itu dengan mata kepalaku sendiri. Hal yang paling membuatku penasaran tentu adalah makhluk yang bernama manusia itu sendiri. Aku berkeliling di udara sambil terus memperhatikan tingkah laku makhluk-makhluk tersebut.

Lelah mulai merasuki tubuhku ketika matahari tepat berada diatas kepalaku. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti sejenak ketika aku melihat pohon yang begitu rindang tepat disamping sebuah mata air. Aku duduk bersandar dibawah pohon itu, hingga sejuknya udara di siang itu membuaiku ke alam mimpi.

“Hei. Apa yang sedang kau lakukan disini?”

Seorang lelaki bertubuh tegap tiba-tiba berdiri dihadapanku.

Aku tertegun beberapa saat dan seketika kepalaku penuh dengan berbagai pertanyaan. Dia manusia dan dia bisa melihatku.

“A..aku sedang berteduh disini.” Hanya jawaban itulah yang terlintas di kepalaku.

Tabir! Aku lupa memasang tabir tak kasat mata di seluruh tubuhku.

Lelaki itu mendekatiku perlahan, “Kau tidak seperti penduduk di daerah ini. Darimana asalmu?” Tanyanya lagi.

“Aku tidak berasal dari daerah sini. Dan aku hanya kebetulan merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat di pohon ini.”

Ia tampak tidak yakin dengan jawabanku. Kemudian ia mengamatiku dengan cermat.

“Tunggu dulu. Mengapa kau memiliki sayap di tubuhmu!” Pernyataannya seperti menamparku dua kali. Tidak hanya karena ia memergokiku, sekarang ia malah sadar akan identitasku. Dengan gugup aku terpaksa mengakui identitasku yang sebenarnya,

“hmmm.. Sebenarnya aku adalah seorang peri yang berasal dari dunia lain selain duniamu.”

“Lantas apa yang kau lakukan disini?”

“Aku hanya bosan dengan dunia peri, aku hanya ingin bermain-main di duniamu.” Ulangku lagi.

“Ya sudah, hari sudah mulai gelap, lebih baik kau ikut denganku. sangat berbahaya apabila kau tidur diluar.” Lelaki itu tersenyum sambil menjulurkan tangannya.

“Tidak, aku belum pernah tinggal dengan manusia sebelumnya, lebih baik aku disini saja.” Aku mencoba menolak tawarannya, namun tiba-tiba ia menarik tanganku.

“Sudah kamu ikut saja denganku”

Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya, namun semuanya sia-sia. Dengan lunglai aku mengikuti lelaki itu, hingga sampailah disebuah gubuk kecil ditengah hutan.

Aku awalnya berpikir ia akan berbuat jahat padaku. Karena walaupun kami ini mahluk abadi, dunia manusia adalah tempat dimana keabadian kami menjadi hilang. Tetapi, sesampainya kami disana. Ia malah memberiku makan dan minum. Serta sesekali menanyakan duniaku serta bagaimana kehidupan disana.

“Si… siapa namamu?” Tanyaku dengan terbata-bata.

Sedari tadi ia hanya menanyakan mengenai diriku dan lupa mengenalkan siapa dirinya.

Iya tertawa sangat keras,“oh iya. Aku lupa bilang. Aku Polus.” Katanya ramah.

Kami terus bercakap-cakap sepanjang malam tanpa menyadari ternyata langit hitam telah berganti menjadi semburat ufuk yang indah. Manusia ternyata tidak semengerikan seperti yang diceritakan oleh Nerf.

Hari demi hari kulewati bersamanya. Tanpa disadari, benih-benih cinta pun tumbuh diantara kami. Siang dan malam kita lewati bersama, hingga kita pun lupa bahwa sebenarnya kami berasal dari alam yang berbeda.

Hingga pada suatu pagi, aku dikejutkan oleh kilatan cahaya dari langit. Angin yang berhembus seakan membisikan sesuatu di telingaku.

“Pulanglah Evie.”

Suara bisikan itu terdengar sangat jelas di telingaku. Ya, itu adalah suara Nerf. Seketika aku teringat bahwa ini adalah hari terakhirku di dunia manusia. Aku harus secepatnya kembali, atau para tetua itu akan menghukumku.

“Kenapa wajahmu tampak pucat seperti itu?” Suara Polus tiba-tiba memecah kebingunganku.

“Hmmm.. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku katakan.” Ucapku dengan bibir yang gemetar.

“Apa itu? Katakanlah.”

“Sebenarnya ini adalah hari terakhirku di bumi, aku harus segera kembali ke duniaku.” Dengan sangat berat aku mengucapkan kata-kata itu.

Polus menggeleng kuat, ia tampak tidak rela dengan perpisahan yang kini berada di depan matanya. Tetapi jangankan dia, aku pun tidak mau. Dunia manusia ini begitu luas dan belum sepenuhnya bisa ku jelajahi.

“Bagaimana caranya supaya aku bisa menghalangimu pergi, Evie?” Tanya Polus mendesak.

Aku menggeleng lemah.

Padahal ada salah satu cara yang terlintas di kepalaku. Tentang legenda peri yang berubah menjadi manusia dengan mempertaruhkan kehidupan abadinya ditangan seorang kekasih yang berhati tulus.

Apakah aku bisa menjadi seorang manusia? Aku menggemakan pertanyaan itu di dalam kepalaku sendiri.

“Sebenarnya aku pernah mendengar cerita tentang peri yang menjadi manusia”

“Bagaimana caranya?” Tanya Polus semakin mendesak.

“Sebelumnya aku ingin bertanya, apakah kamu tulus mencintaiku?”

Terlihat jelas raut kebingungan di wajah Polus ketika ia mendengar pertanyaanku, “Kenapa kau bertanya seperti itu? tentu saja aku tulus mencintaimu” Tuturnya dengan lantang.

“Baiklah kalau begitu, tusuklah jantungku dengan pisau ini.”

Aku tersenyum getir. Kuraih sebilah pisau yang tertancap di dinding, dan menyodorkannya kehadapan Polus.

“Apa yang kau katakan? kenapa kau ingin aku menusuk jantungmu. Aku tidak ingin membunuhmu.”

“Seorang peri yang ingin berubah menjadi manusia harus merasakan kematian terlebih dahulu. Dan itu harus dilakukan oleh kekasihnya yang tulus mencintainya, dengan menusukan pisau ini ke jantungku, agar jantungku berhenti berdetak selama lima detik. setidaknya itulah cerita yang pernah aku dengar”

Polus terpana selama beberapa detik. Ia seperti sedang menimbang-nimbang mengenai ketulusannya.

“Kamu percaya padaku? Tanya Polus.

Ku jawab dengan tanpa jeda, “selalu.”

Polus membaringkanku ke tanah. Matanya tampak berkaca-kaca saat ia mulai menghunjamkan pisau itu dalam-dalam ke dalam jantungku. Aku merasakan duniaku menjadi gelap tanpa cahaya. Selamanya…

 

Kolaborasi tulisan bersama dengan @alizarinnn untuk #20HariMenulisDuet