Archive | #YUI17Melodies RSS for this section

Live Your Life

“Gaya aja kaya preman, tapi diputusin cewe nangis”

“Enak aja, emangnya kamu tuh galau terus!”

Aku tersenyum ketika ingat percakapan semalam bersama kamu. Ya, bersama kamu yang sekarang sedang berlari-lari di lapangan basket dengan baju yang tampak agak kedodoran itu. Aku tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali menahan tawa ketika melihat kamu memegang bola basket itu. Kamu lebih mirip seperti sedang memeluk bola itu daripada memegangnya. Bahkan mungkin ukuran bola basket itu pun lebih besar dari kepalamu sendiri.

Badanmu yang kurang begitu tinggi juga tampak kontras sekali dibanding pemain-pemain yang lain. Aku bahkan terus menggelengkan kepala setiap melihat usahamu merebut bola dari musuhmu itu. Anehnya, kamu tidak pernah menyerah walaupun gagal mendapatkan bola itu. Kamu tetap berlari kesana kemari dengan penuh antusias.

Tiba-tiba aku kembali teringat saat kamu mendaftar ke tim basket di jurusanmu itu. “Kamu ngapain daftar ke tim basket, orang pendek ga bakal diterima,” cibirku waktu itu.

“Biarin, aku kan pengen tinggi. Daripada kamu tuh, cita-cita aja pengen jadi pemain bola, tapi bangun pagi aja susahnya minta ampun,” timpalnya.

“Nyantai aja sih, ntar juga bakal jadi pemain bola. tungguin aja!” aku mencoba untuk mengelak.

“Mau nyantai sampe kapan? udah dua kali tuh kamu ga lolos seleksi tim sepakbola kampus. Kalo tahun depan pas seleksi ketiga kamu ga lolos lagi gimana? mau ikut seleksi keempat pas kamu udah jadi alumni ntar?” Kamu tertawa dengan sangat puas.

“Yaa kalo ga lolos lagi ya udahlah sabar aja, yang lain mungkin lebih jago dari aku”

“Sabar apa? Sabar bukan diam, sabar bukan pasrah dan tak berbuat apa-apa, sabar bukan menyerah, tapi sabar adalah bersemangat dengan segala keterbatasan yang ada!”

Priiiiitt

Peluit tanda pertandingan berakhir menyadarkan lamunanku. Aku melihat kamu melompat-lompat kegirangan setelah berhasil menjuarai turnamen basket antar fakultas itu. Aku tersenyum sambil mengangkat jempolku ke arahmu. Kamu membalas acungan jempolku dengan mengepalkan tanganmu sambil melompat-lompat ke udara dengan penuh semangat. Semangat. Kata itulah yang selalu tampak di wajahmu, tak ada kata menyerah dan tak ada kata putus asa walaupun dengan berbagai kekurangan yang kamu miliki.

“Jadi orang itu harus selalu semangat, bersemangat untuk menghadapi kebaikan yang Tuhan berikan dengan cara apapun, dan bersemangat untuk tetap membantu orang lain untuk tetap bersemangat. Karena hanya itulah satu-satunya udara yang bisa memperpanjang hidup kita”.

Aku masih ingat kata-katamu itu, sebuah nasehat yang selalu menyuruhku untuk selalu bersemangat. Nasehat yang hanya tidak sekedar kata-kata karena kamu terus melakukan hal itu. Kulihat kamu mulai menghampiriku dengan senyum sumringah sambil memamerkan sebuah medali yang dikalungkan di lehermu.

“Cieee juara, boleh nih ntar malem traktir roti bakar,” ujarku.

“Yaa bolehlah mumpung aku lagi seneng, sekalian ngehibur kamu juga yang baru diputusin,” timpalmu sambil tertawa lepas.

Sesaat kemudian kamu kembali berkumpul bersama teman-temanmu di tengah lapangan basket. Aku terus memperhatikan gerak-gerikmu itu di tribun penonton yang mulai berangsur sepi.

***

Gerimis nampak mulai turun ketika kita sampai di tenda tempat penjual roti bakar ini. Walaupun tidak terlalu besar, namun roti bakar ini lebih nikmat dibandingkan roti bakar yang lainnya. Tanpa basa-basi aku langsung memesan roti coklat dengan teh hangat. Seperti biasanya, kamu pasti langsung memesan roti keju strawberry bersama dengan kopi susu.

Perbincangan mengenai pertandingan basket siang tadi mewarnai obrolan kita malam ini, hingga tiba-tiba kamu bertanya sesuatu, “jadi gimana cita-cita kamu buat jadi pemain bola? masih pengen atau pengen ganti ke cita-cita yang lain?”

Aku menghela nafas sejenak, “entahlah,  gimana ntar aja mau kayak gimana”

“Eeeh.. bukan gimana ntar, tapi ntar gimana. Kamu usaha dong, masa diem aja”

“Duuh aku juga bingung mau kayak gimana. Biarin Tuhan aja deh yang ngatur, lagian kan cuma Dia yang tahu masa depan kita bakal kayak gimana”, ujarku sambil tersenyum simpul.

Kamu tersenyum. “Yah, seperti kebanyakan orang bilang, masa depan itu emang misteri, tapi bukan berarti kita nyerah dan pasrah sama ketidaktahuan atau kegelapan masa depan. Ya… ya… ya… emang cuma Tuhan yang tau, tapi kita ada sekarang untuk menerka, untuk merencanakan, untuk menerawang, dan untuk berusaha tentunya. Itulah kenapa Tuhan ciptakan Masa Depan sebagai Misteri. Masa depan itu nggak lain dan nggak bukan adalah diri kita sendiri. Bentuk dari ‘bagaimana seharusnya kita’. Jadi tak usah bertanya esok kita akan jadi apa? Karena bisa jadi pertanyaan itu membuat esok tetap menjadi sebuah pertanyaan. Masa depan itu bukan misteri yang harus diungkapkan, tapi untuk dibuktikan keberadaannya.”

Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedari tadi berusaha untuk memotong roti. Aku mencoba memperhatikan lebih dalam perkataanmu.

“Satu hal yang harus kita tahu, kita kan hidup di dunia ini untuk memperjuangkan masa depan, jadi biarlah masalah mengganggu tapi nggak usah menghancurkan hidup kita. Kalau emang nggak kuat hidup, ya “SHINDE KUDASAI1“. Tapi kan ngga sesederhana itu, perjalanan masih panjang loh. Ke-PD-an amat kalo kita ngerasa pengen cepet-cepet mati. Emangnya kamu udah ngapain aja di dunia ini? Udah pernah ngerasain ngedaki gunung Jaya Wijaya belum? Udah pernah berenang di Samudra Pasifik? Udah keliling-kelilng Eropa belum? Udah nyicipin semua makanan di Indonesia belum? Udah pernah lihat sakura secara langsung belum? Masih banyak tau yg bisa dinikmati di dunia ini…”

Aku mengernyitkan dahi. Aku semakin terhanyut ke dalam perkataanmu, seperti ada hipnotis yang membuat mulutku kaku dan tak bisa memotong kata-kata itu.

“Belajar dari suasana dimana Tuhan memberikan rancangan hidup sedemikian rupa dan menyuruh kita menjalaninya dengan kemampuan yang terbaik meskipun dalam keadaan kita suka ataupun nggak, saat kita ngerasa senang ataupun kecewa, saat kita bahagia ataupun terluka. Belajar menerima apapun yang terjadi di sekitar kita, saat semuanya nggak sesuai sama apa yang kita inginkan, saat merasa dunia memusuhi kita, saat masalah datang silih berganti. Belajar mendirikan semangat saat diri sendiri mulai bosan dengan keadaan yang ada, saat orang-orang di sekitar kita memberikan respon negatif, saat diri sendiri merasa aman dalam keadaan yang memaksa kita untuk diam di tempat.”

Kamu berhenti, meraih gelas kopi dan langsung menyeruputnya. Entah kenapa kamu sangat menyukai minuman itu, minuman yang menurutku memiliki cita rasa yang aneh.

“Masih banyak cara-cara Tuhan memberikan kita pelajaran,” kamu mencoba melanjutkan perkataan sebelumnya. “Dan pada akhirnya mungkin hanya pembelajar sejatilah yang akan merasakan medali-medali emas asli dari Tuhan. Entah itu berupa kesuksesan, kebahagiaan, rasa bangga, ataupun reward terbaik bisa dikumpulkan di tempat orang-orang terbaik di akhirat kelak. Pembelajaran dari Tuhan itu terlalu LUAR BIASA. Kamu akan jadi juara dan akan jadi yang tersukses saat kamu merasa bahwa hidup itu terlalu luar biasa. Bahkan meskipun Tuhan tidak menjajikan Surga bagi orang-orang yang bersyukur, kamu tetap harus bersyukur atas WAKTU yang tuhan berikan untuk kita bisa mencicipi semuanya. Ya… WAKTU! Terlalu sempurna Tuhan Menciptakan WAKTU, tapi kita lebih sering menyia-nyiakannya.”

Giliranku yang meminum teh manis yang sudah mulai menjadi dingin. “Oke..oke.. mulai sekarang aku bakal nyoba buat berusaha lagi, tapiii..”

“Tapi apa?”

“Tapi aku suka males kalau ga ada yang nyemangatin, kamu tahu sendiri kan kalau aku tuh orangnya males banget. Apalagi sekarang nih aku baru diputusin, makin males aja deh ga ada penyemangat”, ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

“Sulit memang untuk move on, untuk sekedar gerak memindahkan tubuh ke tempat yang lebih baik. Tapi ya sekali lagi hanya diri sendirilah yang bisa dan sanggup melakukannya, ga ada esensinya kalo perubahan itu terjadi karena orang lain, karena orang lain itu juga punya dirinya sendiri untuk sekedar diurusin,” timpalmu sambil melahap potongan-potongan keju yang tertinggal di piring.

Aku tertegun mendengar ucapanmu. Aku memang terlalu banyak menyia-nyiakan waktu selama ini. Bahkan aku sudah tertinggal sangat jauh dari kamu dalam hal mengejar cita-cita. Kamu memang tidak pernah menyerah untuk mengejar cita-cita. Di dalam tubuh kecilmu terdapat pemikiran yang sangat luas dan bijaksana, bahkan aku yang umurnya lebih tua darimu juga tidak memiliki semua itu.

Malam mulai larut, namun gerimis masih setia menemani malam yang sunyi ini. Kita akhirnya memutuskan untuk berlari menerobos gerimis itu agar tidak terjebak terlalu lama di dinginnya udara malam ini.

***

Seminggu sudah kamu terbaring tak sadarkan diri di ruang berukuran 4×4 meter ini. Selang infus serta berbagai macam selang yang berukuran besar itu melingkari tubuhmu. Aku hanya bisa terpaku di samping tempat tidurmu sambil terus mencoba menahan air mata hingga membuat pipiku terasa panas. Aku benar-benar tidak sanggup melihat penderitaanmu ini.

Sesaat kulihat nafasmu terengah-engah. Aku yakin dengan sisa kekuatan yang kamu miliki, kamu masih berusaha untuk bisa kembali membuka matamu untuk melihat mentari esok pagi. Aku yakin selama tujuh hari ini kamu terus berjuang untuk mengalahkan penyakit itu, terus berjuang untuk bertahan hidup di dunia ini. Aku yakin kamu tidak akan pernah menyerah untuk dapat kembali meneruskan perjuangan untuk mencapai cita-citamu, perjuangan untuk membahagiakan kedua orang tuamu.

Seandainya aku boleh mengajukan satu permintaan saja, maka aku akan meminta untuk kembali melihatmu tersenyum, walau hanya sekali saja.

***

Ini soal kehilangan… Yang akan berarti jika kehilangan sesuatu yang berharga
Terlalu sakit pasti rasanya
Seperti anak kecil merindukan susu ibunya saat disapih
Rasanya nggak rela
Tapi kawan, lagi-lagi ini Kehidupan
Tuhan yang amat Mulia pemegang kendalinya

Ingatlah kawan Tuhan tak pernah mempermainkan makhluknya
Semuanya selalu indah jika kita mau menelaah dengan baik
Yah, saat hidup mulai terasa pahit maka sesungguhnya pahit itu bagian dari rasa
Sama dengan manis, asam, ataupun asin
Saat kita bisa merasakan semua rasa maka saat itulah kita tau bahwa lidah kita sempurna
Yah, saat kita bisa merasakan pahitnya kehidupanpun tentunya saat itulah hidup kita terasa sempurna
Jangan terlalu membebani rasa pahit, karena sesungguhnya nafas, berjalan, memandang, berbicara, bertemu, keluarga, hidup, semuanya terlalu manis…

Kembali tentang kehilangan
Ini soal ada dan tak ada kan?
Semuanya datang dan berlalu silih berganti
Ada yang hilang ada yang datang
Tenang saja sang hilang takkan benar-benar kehilangan
Masih ada yang tersisa…

Karena Kehilangan akan menyisakan Rindu

***

Jam dinding baru menunjukan pukul 6 pagi. Aku mengencangkan tali sepatuku dan mulai berlari menuju lapangan atletik di dekat komplek rumahku. Ini adalah hari kelima semenjak kamu meninggkalkan dunia yang fana ini. Ini juga hari kelima di mana aku berhasil bangun pagi untuk berolahraga dan berlatih sepak bola. Aku terus berlari sambil sesekali melihat ke arah langit biru yang tampak padu dengan warna jingga dari sinar mentari pagi.

Sejenak aku membuka ponselku dan melihat postingan terakhir yang ada di blogmu:

“Ketika hidup merupakan penantian, maka aku berharap untuk tidak menanti, membiarkan jalan terbentang luas, menghampiri apapun yang bisa kuhampiri, meraih apapun yang bisa kuraih. Dan yang seperti itulah aku seharusnya. Yah, kehidupan hanya sebatas itu, karena saat kita ‘menginginkan sesuatu’ saat itulah kita hidup. Saat itulah kita berjalan, saat itulah kita berfikir.”

Aku harus terus berusaha untuk menggapai masa depan. Tak ada lagi kata menyerah, tak ada lagi kata mengeluh. Tak akan ada lagi hari baik dan hari buruk karena semua hari adalah hari terbaik. Hari terbaik adalah hari di mana kita masih hidup di dunia ini, hari di mana kita bisa merasakan indahnya mentari, dan hari di mana segarnya udara pagi masih bisa kita hirup sesuka hati.

Mulai sekarang aku harus terus berusaha dalam segala hal, apapun rintangan yang akan terjadi aku tidak boleh kalah.. Never say die!

———————————————

1Shinde kudasai = Silahkan mati

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Never Say Die

NB:
Dialog karakter “kamu” dan puisi tentang kehilangan dikutip dari blog http://atashinoraifu.blogspot.com tanpa seijin pemiliknya 🙂
O iya, lagu ‘Never Say Die’ juga salah satu lagu favorit dari pemilik blog tersebut 🙂

Labu Merah

Mataku masih terpaku pada sekumpulan anak-anak yang memakai kostum hantu itu. Disini, di beranda rumah tuaku, aku hanya bisa terdiam memandangi keceriaan mereka. Terkadang beberapa orang dari mereka meghampiriku dengan gaya seolah-olah ingin menakutiku, untuk kemudian mereka kembali bermain setelah mendapat beberapa bungkus permen dariku. Aku tersenyum.

Tahun lalu, di tempat ini, kamu masih menemaniku membagikan permen-permen itu kepada mereka. Sesekali kamu pun mencoba menakut-nakuti mereka dengan boneka labu yang kamu buat sendiri. Tahun lalu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kamu selalu memintaku untuk membawakan sebuah labu merah, untuk kita hias dan kita bawa berkeliling desa dibawah taburan cahaya bintang.

“Kamu tahu? ketika malam halloween banyak hantu berwujud bola api menampakan wujudnya, makanya orang tua jaman dahulu membuat boneka labu agar anak-anak tidak bisa melihatnya karena warnanya sama dengan warna hantu bola api itu. Dan kurasa kamu tahu warna api hanya ada dua, jingga dan biru. Jingga untuk kejahatan dan biru untuk kebaikan. Tidak api yang berwarna merah.”

Begitulah aku selalu mencoba untuk menghibur kamu agar tidak meminta labu merah lagi walaupun sebenarnya aku tahu kamu sangat menginginkan labu warna merah itu, bukan warna jingga yang kamu benci.

“Kamu dimana? kenapa nggak kesini? bukankah tahun lalu kamu udah janji kita bakal kesini lagi malam ini?

Kegelapan semakin erat merangkul bumi. Satu persatu anak-anak itu mulai kembali ke rumahnya. Aku mengambil sebutir labu yang sedari tadi tergolek disampingku. Dengan sebuah pisau kecil, aku mulai mencoba untuk mengukir labu itu menjadi sebuah boneka halloween.

“Lumayan bagus,” batinku dalam hati setelah labu itu selesai kuukir.

Perlahan aku mulai menggores tanganku dengan pisau itu. Tetesan darah mulai keluar, membasahi boneka labu itu membentuk sebuah percikan merah yang indah. Semakin dalam aku menggores tanganku, semakin cepat pula labu itu berubah menjadi merah. Indah.

Aku menengadah ke langit, tampak kumpulan bintang Pleiades* mengelilingi bulan purnama malam ini, bulan purnama di malam halloween. Kumakan sebuah permen yang tidak sempat kuberikan kepada anak-anak itu, ini adalah permen yang sudah kulumuri racun, sama seperti yang kuberikan kepada mereka. Aku tertawa pelan.

Tak perlu lagi kamu bermimpi memeluk bulan, biar aku yang mengambilnya untukmu.
Tak perlu juga kamu menangis ketika langit tidak menampakkan bintangnya, biar aku yang pergi kelangit sana menjadi bintang, bersama anak-anak itu, untuk selalu menerangi malammu.

Ketika tetesan darah ini berakhir, kuharap kamu datang kesini untuk mengambil boneka labu merah yang selama ini kamu impikan. Bawalah dia berkeliling dibawah kilauan seribu bintang malam ini.

 

Ditulis untuk @YUI17Melodies dalam rangka #FFHalloween

———————————————————–

*Pleiades (the seven sisters) adalah kumpulan bintang di rasi taurus, yang dalam mitologi yunani merupakan 7 perempuan bersaudara yang melakukan bunuh diri agar abadi menjadi bintang di atas langit.

Mutiara

Senyum manis masih terus mengembang dari bibirnya. Tangannya yang lentik dengan lincah memainkan sebuah piano kecil kesayangannya. Pancaran wajahnya seakan menunjukan bahwa ia bukanlah seorang yang mengidap penyakit kronis. Mutiara, perempuan yang sudah menjadi pacarku sejak dua tahun yang lalu itu divonis menderita AIDS beberapa bulan yang lalu.

“Besok kita ke dokter lagi yah,” ucapku menyela keasyikannya bermain piano.

Mutiara menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, biar kamu cepat sembuh,” tambahku.

Ia menghentikan gerakan jarinya, “Ketika seseorang sakit maka ia memiliki dua pilihan, sembuh atau mati, tapi penyakitku tidak memiliki pilihan yang pertama”

Aku menghela nafas, mencoba untuk menyusun kata yang tepat, “tapi mut..”

“Tapi apa? Mengobatiku berarti mengulur-ulur waktu kematianku, itu sama saja dengan mempermainkan takdir tuhan,” balasnya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin tetap bersamamu, aku hanya ingin selalu disampingmu selama aku bisa, seandainya nyawaku bisa kujual, maka aku akan menjualnya agar aku tetap bisa bersamamu,” ucapku.

Mutiara memelukku. Air matanya terasa panas menetes ke bahuku. Ini adalah pelukan terhangat yang pernah kurasakan.

“Terimakasih sayang, kumohon jika nanti sudah tiba waktuku, maka aku ingin melewatinya di pangkuanmu,” ucapnya dengan terisak.

Aku mengangguk. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukannya, lalu ia menuju ke arah dapur, kemudian ia kembali dengan dua gelas coklat panas.

Sambil tersenyum ia menyerahkan segelas coklat panas kehadapanku, “ayo kita minum dulu”

Kami lalu meminumnya. Ia lalu merebahkan badannya dipangkuanku ketika gelas yang ia minum sudah hampir habis. Sambil bersandar di sofa, aku pun mulai memejamkan mataku yang sudah mulai mengantuk.

Dua jam berlalu, dengan berat aku membuka mataku. Kulihat Mutiara masih tertidur dengan lelap dipangkuanku.

“Bangun sayang, udah sore,” kataku sambil mengelus rambutnya.

Ia tetap tertidur. Tidak, ia tidak seperti orang yang sedang tidur. Tangannya sangat dingin, tidak ada detak nadi dipergelangan tangannya. Mataku langsung tertuju pada gelas coklat yang ia minum. Aku meraihnya, dan langsung mencium baunya.

Bau bawang putih, arsenik1.

Seketika tubuhku lunglai tak berdaya. Aku tak kuasa untuk mebendung air mataku. Dengan erat kupeluk tubuh kekasihku yang sudah tidak bernyawa itu.

“Kenapa kau lakukan ini sayang? Bukankah kau menyuruhku untuk tidak mempermainkan takdir tuhan?”

Aku membuka tas ranselku. Kukeluarkan sebuah gaun pengantin putih yang ingin kuhadiahkan untuknya. Dua tahun yang lalu, tepat hari ini, kami memulai perjalanan cinta ini. Aku membelikan gaun ini sebagai hadiah hari jadi kami, selain itu aku juga berencana untuk menikahinya sebelum ia pergi dari dunia ini. Namun kenyataan harus berkata berkata lain.

Aku memakaikan gaun itu ditubuhnya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Badanku gemetar, dengan lunglai aku lalu mencium keningnya.

“Selamat tinggal sayang, sampai jumpa di surga nanti”

____________

1Arsenik adalah sejenis zat kimia yang memliki kandungan racun yang kuat dan memiliki bau yang khas seperti bawang putih.

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Goodbye Days

?

Aku masih duduk termenung di depan kampusku sambil memandangi orang-orang yang terus berlalu lalang. Sudah hampir setengah jam aku duduk disini, menunggu sesorang yang sangat kucintai. Sesaat lamunanku membawa ingatanku ketika ia tersenyum kepadaku beberapa bulan yang lalu, dan mulai saat itulah aku mulai merasa jatuh cinta kepadanya.

Saat itu aku sama sekali tidak tahu siapa namanya, yang aku tahu hanyalah dia masih satu fakultas denganku. Aku pun masih ingat betapa gembiranya aku ketika ia menerimaku sebagai temannya di facebook, walaupun saat itu kita tidak saling mengenal di dunia nyata.

Sejenak aku melirik ke arah jam tanganku, sudah lima menit berlalu. Aku kembali teringat saat aku dengan susah payah merangkai kata-kata untuk berbicara dengannya, walaupun akhirnya sebatang coklat dapat mencairkan semuanya. Ya, sebatang coklat langka yang sangat ia inginkan sejak lama, coklat yang sudah sangat jarang sekali ditemukan.

Ulang tahunnya pun tak luput dari perhatianku. Masih teringat jelas dibenakku ketika aku dengan susah payah mengumpulkan berbagai hadiah untuknya, dan mungkin itulah hadiah ulang tahun paling rumit yang pernah kubuat. Aku sangat senang ketika aku memberikan kado itu, walaupun terlambat beberapa hari dari hari ulang tahunnya.

Semenjak saat itu, segala sesuatu berjalan dengan begitu mudah. Aku semakin dekat dengannya, walaupun aku sadar bahwa takkan pernah mampu untuk mendapatkan hatinya, dan ia pun takkan pernah mencintaiku mencintaiku.

“Hey, ngelamun aja, udah nungguin dari tadi ya?”

Suara perempuan itu membuyarkan lamunanku. Ternyata itu Anisa, orang yang sudah kutunggu semenjak tadi.

“Ngga kok, aku juga baru nyampe. Nih kasetnya, makasih yaa,” jawabku sambil menyerahkan 3 buah kaset DVD yang kupinjam darinya.

“Oke deh, Hmm.. aku langsung pergi yah, ada janji soalnya sama temen aku,” ucapnya sambil memasukan kaset itu ke tasnya.

“O gitu, ya sudah deh,” jawabku sambil memperhatikan langkahnya menuju ke arah jalan raya.

Di ujung jalan aku melihat seorang lelaki yang sudah menunggunya di atas motor. Sejenak aku menghela nafas. Aku tahu itu adalah lelaki yang selama ini ia sukai. Aku tersenyum, aku tidak marah, aku pun tidak cemburu, karena mungkin inilah yang terbaik untuknya. Asalkan bisa melihat ia tersenyum pun aku sudah merasa sangat bahagia, karena aku tak pernah mau melihatnya menangis jika ia bersamaku.

Terkadang cinta memang tidak sebanding lurus dengan kenyataan. Tapi biarkanlah aku mencintaimu. Aku tak butuh balasan apapun darimu, karena bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan mencitaimu sudah merupakan kebahagiaan untukku. Terimakasih untuk semua waktu yang telah kau luangkan untukku, mungkin itu adalah saat-saat terindah dalam hidupku.

My love song never ends  
I’ve already met you
It will never end

LOVE & TRUTH..

_________________________

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Love & Truth

Kutipan lirik lagu diatas diambil dari lagu YUI – Love n Truth

Gadis Yang Dirantai

Demi siapa aku hidup?
Untuk apa aku hidup?

Kata-kata itu terus terngiang di pikiranku sepanjang malam ini. Aku, Najma, 13 tahun, seorang yatim piatu yang hidup di negeri yang penuh dengan peperangan. Malam ini aku terus berjalan melewati jalanan Gaza yang sepi sambil memandangi langit yang dipenuhi oleh taburan bintang. Aku terus berjalan ke arah utara agar tetap bisa memandang gugusan bintang Andromeda1, gugusan bintang yang paling aku sukai.

Sewaktu kecil ibuku sering mengenalkan kepadaku berbagai macam gugusan bintang yang ada di langit malam. Tapi aku paling suka pada rasi bintang berbentuk huruf A, ibuku bilang itu namanya Andromeda, gugusan bintang itu hanya terlihat di langit utara setiap musim gugur.

Dinginnya angin malam benar-benar menusuk kulitku. Sejenak, aku mengencangkan syal hijau yang terikat di leherku. Syal ini adalah satu-satunya peninggalan ayahku. Dia sering memakai syal ini ketika pergi berperang melawan tentara Israel. Namun ditangan para tentara itu pulalah ayahku meninggal, begitu pula dengan ibu dan adikku, mereka menjadi korban roket yang membombardir perkampunganku.

Semenjak kematian orang tuaku, aku selalu hidup dalam ketakutan. Suara senapan dan ledakan bom hampir selalu kudengar sepanjang hari. Aku hanya bisa berdiam di tempat persembunyian bersama anak-anak yang lain, karena orang-orang dewasa melarangku untuk pergi. Setiap hari kami terus dihantui terror, tangisan, serta kematian.

Aku terus bertanya pada diriku sendiri untuk apa aku hidup. Setiap hari aku selalu merasa terpenjara, apakah aku dilahirkan untuk ini? Bukankah manusia dilahirkan untuk bebas? Aku ingin sekali merasakan kebebasan seperti anak-anak yang lain. Namun apa daya, aku terus hidup dalam kurungan, dirantai oleh ketakutan dan kesedihan.

Malam ini aku kabur dari camp persembunyian. Aku tahu sangat berbaaya bagi seorang anak kecil sepertiku untuk keluar di malam hari. Tapi aku tak perduli, aku hanya ingin merasakan kebebasan. Dan yang paling penting aku ingin melihat kelipan gugusan bintang Andromeda di langit sana.

Malam semakin larut, aku terus berjalan menyusuri jalan dipinggir kota ini. Tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan disini. Aku tak hentinya memandangi langit, sambil sesekali berlari-lari kecil sambil melompat-lompat untuk mengusir hawa dingin yang menyelimutiku. Seperti ada sebuah beban yang lepas, aku merasa sangat bahagia malam ini.

Apakah bintang-bintang itu akan kembali lagi besok? Ah, entahlah, aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan aku pun tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diriku besok. Tapi aku tak perduli, sekarang aku hanya ingin menikmati malam ini bersama kilauan cahaya bintang. Aku bahagia sekarang.

It’s happy line…

*****

Dorr..!!

Sebuah peluru tepat menembus dada seorang gadis kecil. Ia langsung tumbang, bajunya memerah berlumuran darah.

“Kenapa kau tembak anak kecil itu?” bisik seseorang berbaju tentara kepada temannya.

“Dia memakai syal Hamas, mungkin dia seorang mata-mata” jawab temannya.

“Tapi dia kan anak perempuan?” Tanyanya lagi setengah membentak.

“Sama saja, suatu saat dia juga akan melawan kita, dan mungkin akan membunuh kita. Bukankah lebih mudah membunuh anak singa daripada membunuh induknya, benar kan?” jawabnya lagi.

Dijalan itu, seorang anak perempuan terkulai tak bernyawa. Namun ia tampak tersenyum, wajahnya memandang kelangit utara Gaza, ke arah gugusan bintang yang bersinar paling terang malam itu, gugusan Andromeda, gadis yang dirantai.

________________

1Andromeda adalah suatu rasi bintang yang melambangkan putri Andromeda, seorang figur wanita dalam mitologi Yunani yang dirantai pada sebuah batu untuk diumpankan pada seekor monster laut.

Tulisan ini dibuat untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – It’s Happy Line

Aku, Hikari, dan Layangan

Aku berlari-lari mengelilingi padang rumput sambil terus mengulur layanganku. Jauh di ujung sana kulihat Hikari juga sedang mengulur layangannya. Di padang rumput ini, aku sangat suka sekali bermain layangan bersama Hikari, seorang anak perempuan cantik yang tinggal tidak jauh dari rumahku.

Walaupun seorang perempuan, tapi Hikari sangatlah ahli dalam bermain layangan. Ia bahkan sangat suka menjatuhkan layangan-layangan yang diterbangkan oleh anak-anak lelaki di atas bukit. Karena itu aku terkadang hanya diam terpaku menyaksikan atraksi layangan yang dilakukannya.

Entah sejak kapan aku mulai suka bermain layangan bersama Hikari. Hampir setiap ada angin besar kami selalu pergi ke tempat ini, seakan-akan anginlah yang menuntun kami untuk bertemu di padang rumput ini. Kami selalu bermain sepanjang hari, seakan tiada satupun yang bisa memisahkan kami, kecuali hujan. Hanya hujanlah yang bisa memisahkan aku dan Hikari, juga memisahkanku dari permainan layangan kesukaanku ini.

Pada suatu sore di musim panas, angin berhembus dengan sangat kencang. Aku langsung berlari ke padang rumput sambil membawa layangan warna merah kesukaanku. Seperti dugaanku, Hikari sudah berada disana. Tapi ia tidak mengulur layangannya, ia hanya duduk terdiam di samping layangan berwarna biru kesukaannya.

“Hikari, ayo kita bermain layangan lagi,” ucapku padanya.

“Kamu main duluan aja deh,” jawabnya.

Aku langsung mengulur layanganku. Sesekali aku melirik ke arah Hikari, namun ia masih tetap terpaku di tempatnya. Tiba-tiba aku teringat pembicaraan orang tuaku tentang seorang tetangga di komplek ini yang akan pindah rumah. Mungkinkan itu Hikari? Batinku. Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu, aku yakin Hikari akan tetap tinggal disini bersamaku.

“Kamu kenapa diam saja, Hikari?” tanyaku.

Hikari hanya diam seribu bahasa.

“Apa benar keluargamu mau pindah dari kota ini?” tanyaku kembali.

Hikari tampak kaget, tapi ia masih tetap bergeming. Aku kembali melanjutkan permainan layanganku, walau awan hitam mulai tampak memenuhi langit sore itu. Aku tahu Hikari tidak suka berbohong, dan mungkin benar ia akan pergi, tapi aku tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa Hikari, tanpa canda tawanya ketika mengulur layangan di padang rumput ini.

Tiba-tiba sebuah layangan berwarna biru melayang disamping layanganku. Aku langsung menoleh ke belakang. Benar saja, Hikari sudah mengulur kembali layangannya. Aku tersenyum gembira. Kulihat layangan Hikari sudah mulai jauh meninggalkan layanganku. Aku tidak mau kalah, aku langsung mengulur layanganku lebih jauh lagi.

Layangan Hikari terbang semakin tinggi, jauh, dan semakin jauh. Dengan cepat akupun terus mengulur layanganku, terus, dan terus kuulur sampai benang layanganku hampir mencapai ujungnya. Layanganku sudah tidak bisa lagi mengejar layangan biru Hikari, hingga akhirnya aku sadar bahwa layangan biru itu sudah terlepas dari tangan pemiliknya. Hikari sudah menghilang dari tempatnya.

Badanku lunglai, aku langsung merebahkan diriku sambil menatap nanar pada langit yang mulai dihiasi oleh kilatan petir.

Hujan belum turun, tapi kenapa kamu meninggalkan aku?
Bukankah hanya hujan yang bisa memisahkan kita?

Mataku terus memandangi langit, memperhatikan layangan biru yang hampir hilang dari pandangan. Layangan itu terbang semakin tinggi, membawa pergi semua kenangan tentang Hikari, layangan, dan padang rumput ini.

 

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Swing of Lie

Mie Ayam Spesial

Sekarang hari sabtu, tapi karena sudah malam jadi disebutnya malam minggu. Seperti kebanyakan anak muda jaman sekarang, Didi mengajak pacarnya Mimi untuk apel. Karena Didi termasuk orang yang suka berhemat, maka ia memutuskan untuk melakukan ritual malam minggu itu dirumahnya.

Karena tahu Didi akan mengajaknya apel di rumah, maka Mimi memutuskan untuk membawa laptopnya. Mimi memang anak yang rajin, ia selalu membawa-bawa laptopnya kemanapun ia pergi. Bukan untuk mengerjakan tugas, tapi untuk bermain game Angry Birds kesukaannya.

Setelah hampir satu jam bercumbu rayu di ruang tamu, tiba-tiba Didi merasa lapar.

“Beb, kamu laper ga?” kata Didi.

“Iya nih laper, tumben kamu mau ngajak aku makan ke luar,” jawab Mimi dengan wajah yang berbinar-binar.

“Ih siapa juga yang mau ngajak kamu makan di luar, orang aku mau masak yeey,” cetus Didi.

Tanpa menunggu persetujuan dari Mimi, Didi langsung meluncur ke dapur. Karena Cuma bisa memasak mie rebus, akhirnya ia memutuskan untuk memasak mie rebus rasa ayam spesial yang baru ia beli tadi siang.

Didi kemudian mulai memasukan bahan-bahan yang akan ia masak bersama mie rebus. Setelah memasukan dua buah mie, ia kemudian membuka kulkas. Di kulkas Didi mengambil telur, lalu ia masukan. Ada sayur sawi, dimasukan. Ada wortel dan kol, ia masukan. Ada tomat, bawang bombay, dan jahe, ia masukan juga. Ada Oreo rasa jeruk, tidak dimasukkan, ia simpan buat Afika.

Setelah satu jam memasak akhirnya mie rebus itu matang juga, ia kemudian langsung membuat minuman buat Mimi.  Didi mengambil dus susu Milo dan toples gula dari lemari, lalu ia mencampurkan satu sendok Milo dengan dua sendok gula. Lumayan, jadi hemat susunya, cetusnya dalam hati. Setelah semua siap, ia lalu membawanya ke meja makan.

“Bebeeb, udah mateng nih,” teriak Didi.

“Iya bentar, tanggung nih satu level lagi,” balas Mimi.

Didi lalu menghampiri Mimi, “sudaah, makan dulu sana, ada mie ayam spesial tuh”

Karena dipaksa, Mimi akhirnya pergi ke meja makan. Didi mempersilahkan Mimi buat makan terlebih dahulu agar kalau seandainya mie rebusnya tidak enak, maka Didi tidak akan memakannya.

“Gimana beb, enak ga?” Sela Didi.

“Hmm.. enak lah, wong makanannya gratis, rasa soto koyanya kerasa banget,” jawab Mimi.

“Loh kok rasa soto koya sih, aku kan masak mie rasa ayam spesial?” ucap Didi kebingungan.

“Ooh gitu ya, ga tau nih ga jelas rasanya, tap enak kok,” balas Mimi sambil terus memakan mie rebus itu.

Dalam sekejap Mimi melahap mie rebus itu tanpa sisa.  Ia kemudian meminum susu Milo panas yang sudah disediakan oleh kekasihnya.

Tiba-tiba Mimi memuntahkan susu yang ia minum, “Hoeek, kok susunya asin sih?”

“Haah, yang bener?” jawab Didi seolah tidak percaya.

“Sumpah, cobain nih!” kata Mimi.

“Ngga mau ah”

Tanpa pikir panjang Didi langsung membuka lemari. Ia langsung kaget ketika ia melihat toples gula masih teronggok dengan manisnya di lemari itu. Berarti yang tadi gue ambil tuh toples garam dong? Batin Didi, lalu ia menengok ke arah Mimi.

“Itu susu Milonya rasa baru beb, Milo rasa ayam spesial,” ucapnya dengan senyum seperti alien.

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies,
dengan tema lagu YUI – Cooking